Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Saturday, March 17, 2012

Balian : Menguak Fenomena Balian dalam Kehidupan Orang Bali

Pada dasarnya konsep kehidupan orang Bali sbb : seluruh mahluk hidup mempunyai jiwa, baik tanaman, hewan maupun manusia. Jiwa (=Atman) berasal dari Tuhan YME; apabila jiwa tersebut masuk dan bereaksi dengan alam material ( yaitu ditambah lapisan-lapisan kehidupan) maka akan terbentuk makhluk hidup. Seperti itu sederhananya.

Lalu, yang disebut sebagai roh (atau roh gentayangan) adalah jiwa yang karena alasan tertentu belum/ tidak bisa menuju alam spiritual yg lebih tinggi (padahal badan kasarnya sudah tidak ada/ tidak bisa dipakai lagi). Jiwa ini (yaitu roh) masih diselubungi oleh beberapa lapisan (seperti pikiran, nafsu, keinginan dll) sehingga mereka masih mengingat segala sesuatunya semasa hidup.
 
http://blog.baliwww.com/wp-content/uploads/2008/09/balian.jpg
Kewajiban : Seorang Balian sedang menangani pasiennya
Menurut kepercayaan, roh-roh ini menempati alam-alam tertentu; bukan alam material, tapi alam spiritual di tingkat-tingkat tertentu, sesuai kesadarannya terhadap Tuhan. Jadi, bila ada orang dengan kemampuan khusus (biasanya dikenal dengan istilah: "dukun", "cenayang" atau "medium") dan orang ini bisa menjadi perantara, maka roh ini bisa digunakannya.

Barong : Simbol Penjaga Bali

Braahmaa srjayate lokam
Visnave paalakaa sthitam.
Rudretve sanharas ceva
Tri Murthi naama evaca.
(Bhuwana Kosa. III.78).


Maksudnya:
Batara Siwa menciptakan alam ini dengan wujud Dewa Brahma, dengan wujud Dewa Wisnu menjaga alam ini. Dengan wujud Dewa Rudra beliau mempralina alam ini. Itulah Dewa Tri Murti, tiga wujud itu hanya beda nama.

Dalam ajaran Hindu, Tuhan itu Esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu.



http://farm1.staticflickr.com/181/454992251_8f25b73bbc_z.jpg
Besakih : Personifikasi Tri Murti
Misalnya Tuhan diyakini sebagai maha pencipta, maha pelindung dan maha pemralina. Tiga kemahakuasaan Tuhan itulah dalam kitab Bhuwana Kosa yang dikutip di atas disebut Brahma, Wisnu dan Rudra. Itulah yang disebut Tri Murti. Beliau itu satu hanya beda fungsi dan sebutan atau nama saja. Rudra ini juga disebut Iswara. Dalam Bhuwana Kosa tersebut Tuhan disebut Siwa. Sebagai pemralina atau melenyapkan sesuatu yang patut dilenyapkan Tuhan Siwa disebut Rudra atau Iswara.

Thursday, March 15, 2012

Sangut, Delem, Merdah, Tualen : Bali Belajar dari Mereka..

Bali selalu memberi inspirasi pada saya, keunikannya tak pernah habis untuk dikupas. Keseniannya tak kunjung mampu dipahami dalam satu roda kehidupan, salah satunya adalah seni wayang kulit Bali. Bagi para pecinta kesenian ini tentu tak asing lagi dengan karakter punakawannya.
Dalam pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan yg bisa menjadi renungan: 1) Tualen. 2) Merdah. 3) Sangut. 4) Delem. Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum.
  1. Tualen, dia “tidak tahu dirinya tahu”. Dia kontemplatif, murni bersandar pada batin, sederhana dan penuh kearifan. 
  2. Merdah, dia “tahu dirinya tahu”. Dia paham, berani dan penuh percaya diri. 
  3. Sangut, dia “tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak paham, namun bersikap menerima ketidakpahamannya, mengakui kelebihan orang lain, penuh pertimbangan. 
  4. Delem, dia “tidak tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak tahu tapi merasa tahu, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain, angkuh dan congkak di depan orang-orang, dan dia tidak bisa mengukur diri. Percaya diri di tengah ketakpahaman. Angkuh dan pongah, merasa paling benar.
Dari para punakawan ini, sadar atau tak sadar, masyarakat Bali memetik sikap: Kita memilih berperan seperti siapa?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOeEfREozWdd99isQgdMQegx4oHNBnqoqwIbDGne-tJ3qlRP_VOkRT-UZRg_bbOcLwYyyANUEwZrdLg0dD_eirwtl-98MmA_gs4U1u_g4bO31sTiFyVxjLDiKtYiy8LgefxHGQ6ye91p0/s1600/wayang_1.jpg
Pertunjukan wayang kulit bali(karakter dalam gambar : Delem dan Sangut)

Setidaknya masyarakat Bali yang suka pewayangan akan malu bercermin pada Delem, yg selalu pongah dalam ketidaktahuannya. Minimal kita bisa merenung, kalau tidak tahu sebaiknya kita “tahu kalau kita tidak tahu”, ini sikap Sangut. Idealnya kita seperti Tualen, sekalipun ia paham dan tahu, dia tidak bersikap absolut atau “tidak tahu dirinya tahu”; di sini seseorang dituntut menjadi arif sebab kenyataan dan kebenaran tidak berwujud tunggal, maka “selalu ada yang mungkin”.

Kain Poleng Bali : Apa Makna Filosofisnya...

Kain Poleng_kain bermotif kotak dengan warna hitam-putih ini mungkin tidak berlebihan kalau diidentikan sebagai “warna khas Bali”. Dengan mudah kain ber motif ini ditemui hampir disetiap per-empatan, pohon besar, gerbang pura bahkan dipakai pula sebagai kain (jarig) penari kecak dan para pengawal/petugas keamanan tradisional (pecalang).

Bagi rekan-rekan penggemar cerita wayang, kain poleng juga dapat dilihat pada beberapa tokoh utama seperti Bima dan Hanoman.

Kain Poleng rupanya kini sudah menjadi bagian dari kehidupan religius umat Hindu di Bali. Tidak saja digunakan untuk keperluan religius yang sifatnya sakral, kain poleng juga banyak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya profan atau sekuler.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKqJebM50_dXP33lzsfsYgZQ1IiXOX_F8wuE32PCcO4_YoBRtqOAruJHb5febyj2-4aq2VnwQI1xRdKlvy0bQJWi13S0bdU5-wuRAXDDPohkuOzi0ERhDHMDM2_OB6eNH12Rw7Tc4efFE/s1600/RFNDXzM0MDEtS0ZLLmpwZw%253D%253D.jpg
Cermin baik dan buruk
Di pura, kain poleng digunakan untuk tedung (payung), umbul-umbul, untuk menghias palinggih (tugu), patung, kulkul (kentongan). Tidak hanya benda seni sakral, bahkan pohon yang ada di pura pun banyak dililit dengan kain poleng.

Tantrayana : Menguak Keyakinan Calonarang

Rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, sejak dahulu memeluk agama yang berbeda-beda. Tantrayana adalah suatu aliran atau sekte yang pada masa lampau pernah cukup banyak pemeluknya dan berkembang luas di Indonesia; bahkan raja Kertanegara dari kerajaan Singasari adalah seorang penganut yang taat dari agama Budha Tantra.

Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari di Jawa Timur adalah seorang raja yang sangat taat melaksanakan ajaran Tantrayana. Beliau hidup berpesta pora di dalam istana bersama-sama dengan mentri-mentri dan para pendeta terkemuka. Bahkan ketika Singasari diserbu oleh pasukan kerajaan Kediri pun mereka sedang mengadakan pesta pora, tetapi upacara pesta pora, makan minum besar-besaran tersebut bukan sebagai pesta biasa, melainkan raja bersama para mentri dan pendeta itu sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana (Soekmono, 1959 : 60).

Untuk mengungkapkan perkembangan Tantrayana di Bali maka uraian tidak bisa lepas dari hubungan Bali dengan Jawa Timur, yang dimulai dengan perkimpoian raja Dharma Udayana Warmadewa di Bali dengan seorang putri raja Jawa Timur yang bernama Sri Gunapriyadharmapatni. Beliau adalah putri Makutawangsawardhana, sedangkan Makutawangsawardhana adalah cucu Raja Sindok. Pada masa pemerintahan Raja Sindok di Jawa Timur Tantrayana telah berkembang. 


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitSml-pau_3jMsnv1tMW9-tmTBYeaCIyvPraVATLs9ZwjmNt6avYijshlUjW1Ce8055llTjbLxXrH8Bi4SL2_86r898t3fQURBZWR2ieAIp9AOAzTMpT_wSJEo_BqrPxAPqjSIh7YEtwuu/s1600/3524244659_f68fe1cd08_b.jpg
Rangda

Pada waktu itu telah disusun kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah agama Budha Tantra. Kemungkinan bahwa Sri Gunapriyadharmapatni atau Mahendradhatta pun telah terpengaruh oleh aliran itu di tempat asalnya di Jawa timur, sebab di Bali jaman pemerintahan raja Dharma Udayana Warmadewa dan Gunapriyadharmapatni merupakan jaman hidup suburnya perkembangan ilmu-ilmu gaib. 

Tuesday, March 13, 2012

Calonarang : Sakit Hati Yang Meminta Banyak Korban

Sendratari Calonarang adalah salah satu kesenian Bali yang termasuk dalam katagori kesenian untuk kepentingan ritual yang sakral (wali) tentu saja tidak setiap saat dipentaskan, biasanya pada saat-saat tertentu saja sebagai sarana untuk "melukat" (membersihkan desa dalam konteks spiritualitas).

Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa / Pangleakan dan Panengen.

Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kesaktian (batin).

Pertunjukan Sendratari Calonarang
Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting, yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket, Rangda dan Celuluk, Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong, Putri, Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (murid-murid).
Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres.

Wednesday, March 7, 2012

Leak Bali : Lebih Jauh Tentang Ilmu Pangleakan Bali...(Hati-Hati!)

Sama seperti halnya ilmu2 lain yang ada di jagat raya, di Bali juga terdapat 2 jenis ilmu yaitu ilmu putih (penengen) dan ilmu hitam (pangiwa). Ilmu hitam (pangiwa) sering juga disebut aji wegig/aji ugig. Adapun cara untuk mendapatkan ilmu tersebut bisa dengan cara membeli ataupun meminta (nunas) dan belajar di bawah pengawasan gurunya. Berikut kira2 cara untuk memperoleh ilmu hitam / pengleakan tersebut:

Mangku Pogog : Sebuah Kisah Unik Dari Bali...

Bali, sebuah pulau kecil yang terkenal di seluruh dunia akan keindahan alam dan budayanya selalu menyimpan berbagai macam keunikan, misteri dan terkadang keanehan-keanehan yang susah untuk dicerna oleh akal sehat. Mulai dari kisah-kisah mistis tentang Leak sampai pada segudang filosofis hidup masyarakatnya.

Ada satu hal yang tak pernah lepas dari kehidupan orang Bali, yaitu kisah dan cerita tentang para Balian, mereka adalah para penyembuh, dukun, terkadang juga guru spiritual dan selalu menjadi jujugan orang Bali ketika masalah hidup tidak kunjung menemui.

Kisah yang akan saya bagikan berikut ini adalah kisah seorang Balian yang bernama Mangku Pogog, adalah guru dan balian yang unik...Berbagai media dan ahli kedokteran dunia di buat tercengang dengan praktek penyembuhan yang dilakukannya. Tulisan berikut diterjemahkan dari sebuah artikel yang ditulis oleh Daniel D McGuire, seorang jurnalis, penulis,  produser film dokumenter dan kameramen. Berikut kisahnya...

Strange Case of Mangku Pogog
Mangku Pogog : Manusia memiliki keterbatasan
Selama beberapa tahun terakhir, Mangku Terbuat Pogog selalu berada di tempat tidur di rumahnya di Mengwi, Bali. Lumpuh karena stroke yang mempengaruhi sisi kiri tubuhnya, ia tidak mampu berjalan lebih dari beberapa langkah. Sebuah ember ditaruh di dekatnya kalau-kalau dia perlu buang air kecil, dan Pogog menghabiskan hari-harinya menonton televisi, merokok dan mengawasi cucu-cucunya.