Showing posts with label Wayang. Show all posts
Showing posts with label Wayang. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

Sangut, Delem, Merdah, Tualen : Bali Belajar dari Mereka..

Bali selalu memberi inspirasi pada saya, keunikannya tak pernah habis untuk dikupas. Keseniannya tak kunjung mampu dipahami dalam satu roda kehidupan, salah satunya adalah seni wayang kulit Bali. Bagi para pecinta kesenian ini tentu tak asing lagi dengan karakter punakawannya.
Dalam pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan yg bisa menjadi renungan: 1) Tualen. 2) Merdah. 3) Sangut. 4) Delem. Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum.
  1. Tualen, dia “tidak tahu dirinya tahu”. Dia kontemplatif, murni bersandar pada batin, sederhana dan penuh kearifan. 
  2. Merdah, dia “tahu dirinya tahu”. Dia paham, berani dan penuh percaya diri. 
  3. Sangut, dia “tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak paham, namun bersikap menerima ketidakpahamannya, mengakui kelebihan orang lain, penuh pertimbangan. 
  4. Delem, dia “tidak tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak tahu tapi merasa tahu, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain, angkuh dan congkak di depan orang-orang, dan dia tidak bisa mengukur diri. Percaya diri di tengah ketakpahaman. Angkuh dan pongah, merasa paling benar.
Dari para punakawan ini, sadar atau tak sadar, masyarakat Bali memetik sikap: Kita memilih berperan seperti siapa?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOeEfREozWdd99isQgdMQegx4oHNBnqoqwIbDGne-tJ3qlRP_VOkRT-UZRg_bbOcLwYyyANUEwZrdLg0dD_eirwtl-98MmA_gs4U1u_g4bO31sTiFyVxjLDiKtYiy8LgefxHGQ6ye91p0/s1600/wayang_1.jpg
Pertunjukan wayang kulit bali(karakter dalam gambar : Delem dan Sangut)

Setidaknya masyarakat Bali yang suka pewayangan akan malu bercermin pada Delem, yg selalu pongah dalam ketidaktahuannya. Minimal kita bisa merenung, kalau tidak tahu sebaiknya kita “tahu kalau kita tidak tahu”, ini sikap Sangut. Idealnya kita seperti Tualen, sekalipun ia paham dan tahu, dia tidak bersikap absolut atau “tidak tahu dirinya tahu”; di sini seseorang dituntut menjadi arif sebab kenyataan dan kebenaran tidak berwujud tunggal, maka “selalu ada yang mungkin”.

Kain Poleng Bali : Apa Makna Filosofisnya...

Kain Poleng_kain bermotif kotak dengan warna hitam-putih ini mungkin tidak berlebihan kalau diidentikan sebagai “warna khas Bali”. Dengan mudah kain ber motif ini ditemui hampir disetiap per-empatan, pohon besar, gerbang pura bahkan dipakai pula sebagai kain (jarig) penari kecak dan para pengawal/petugas keamanan tradisional (pecalang).

Bagi rekan-rekan penggemar cerita wayang, kain poleng juga dapat dilihat pada beberapa tokoh utama seperti Bima dan Hanoman.

Kain Poleng rupanya kini sudah menjadi bagian dari kehidupan religius umat Hindu di Bali. Tidak saja digunakan untuk keperluan religius yang sifatnya sakral, kain poleng juga banyak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya profan atau sekuler.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKqJebM50_dXP33lzsfsYgZQ1IiXOX_F8wuE32PCcO4_YoBRtqOAruJHb5febyj2-4aq2VnwQI1xRdKlvy0bQJWi13S0bdU5-wuRAXDDPohkuOzi0ERhDHMDM2_OB6eNH12Rw7Tc4efFE/s1600/RFNDXzM0MDEtS0ZLLmpwZw%253D%253D.jpg
Cermin baik dan buruk
Di pura, kain poleng digunakan untuk tedung (payung), umbul-umbul, untuk menghias palinggih (tugu), patung, kulkul (kentongan). Tidak hanya benda seni sakral, bahkan pohon yang ada di pura pun banyak dililit dengan kain poleng.